Senin, 12 Maret 2012

Kepemimpinan Mahasiswa


Penasihat manajemen Dale Carnegie dalam bukunya yang berjudul The Leader in You menuliskan bahwa “Ada kepemimpinan di dalam setiap diri Anda” . Mengingatkan kita bahwa dalam Alkitabpun ditulis manusia diciptakan untuk memimpin alam semesta. Jadi sebenarnya kepemimpinan itu melekat dalam jiwa secara lahiriah.
§   Perspektif kepemimpinan mahasiswa secara personal dan kolektif.
Kepemimpinan seringkali didefenisikan sebagai bagian dari seni (art) untuk mempengaruhi, mengatur seluruh anggota suatu organisasi dalam pencapaian  suatu tujuan. Kepemimpinan secara personal di sini diartikan sebagai suatu seni untuk mengatur kepribadian secara perorang (kompetensi  dan intergritas) dalam usaha mencapai kesuksesan dan keberhasilan hidup semata. Secara kolektif kepemimpinan dimaknai sebagai suatu seni untuk memimpin,menjadi katalisator serta menjadi penggerak dinamika orang banyak entah dalam ruang lingkup suatu organisasi ataupun dalam lingkup lingkungan yang bebas tanpa kerterikatan apapun dan tujuan yang dicapai adalah bagaimana mengakomodir kepentingan umum (commune bonum). Dalam konteks kepemimpinan mahasiswa secara personal sebenarnya bukan seni tatapi lebih pada leadership wisdom (di mana dalam pencapaiannya dengan pembelajaran yang melintasi waktu dan dilaksanakan secara disiplin) dalam membentuk kemampuan baik secara akademis maupun nonakademis serta proses penemuan jati diri (integritas diri) dalam cakupan tujuan secara perorang. Demikian pula dengan kepemimpinan mahasiswa secara kolektif namun kepemimpinan mahasiswa secara kolektif ruang lingkupnya secara public entah dalam tataran intrakampus maupun ekstra kampus dan sebenarnya bertujuan untuk mengaktualisasikan diri serta mendapatkan pengakuan dari banyak orang mengenai eksistensinya.
§   Kepemimpinan mahasiswa dalam kaitan dengan konstelasi eksistensi mahasiswa pada masa kini.
Kita coba melihat kembali hakikat kepemimpinan mahasiswa sebagai leader wisdom yang di mana dalam pencapainnya butuh waktu, butuh proses penjenjangan, butuh konsistensi, kedisplinan serta kerja keras secara intensif guna menjadi manusia seutuhnya. Dalam menginterpretasikan serta aplikasinya (action) dalam keseharian perlu adanya SIKAP CERDAS DALAM MEMILAH serta CERDIK DALAM MEMILIH. Hal apa yang mendasari penulis lebih memberi aksentuasi pada sikap cerdas dan cerdik. Yang pertama ;berhubungan dengan persepsi. Pemahaman dan pandangan masing-masing pribadi tentu berbeda-beda. Perbedaan ini akan berdampak pada sikap serta perilaku  secara nyata ditampilkan dan menjadi salah  satu indicator yang bisa diukur. Sederhananya bila dipahami sebagai hal yang positif tentu aksinyapun menggambarkan pemahamannya sebaliknya bila dipahami sebagai wahana untuk hal-hal negative tentunya punya misi-misi tertentu yang bisa merongrong dan mendegradasi nilai-nilai normative yang ada. Saya kira pemikiran secara positif jarang sekali ditemukan dalam kehidupan kita malah yang mendominasi adalah pemahaman negative.Ini suatu kenyataan entah kita sadari  atau tidak di FKM tercintapun banyak sekali misi-misi khusus semacam jihad yang secara gerlya dijalankan padahal jelas-jelas menyimpang tetapi dibenarkan secara parsial dan herannya dipaksakan untuk mengamininya secara komunal.Hal ini membuktikan dangkalnya pemahaman serta sikap serakah akan kekuasaan dan jabatan. Ironisnya, ketika kita telusuri lebih jauh ke dalam, yang didapatkan adalah perbandingan kuantitasnya lebih memadai ketimbang kualitas. Sungguh menjadi pukulan berat bagi kita yang menamakan diri sebagai mahasiswa FKM. Tak dapat dipungkiri bahwa fenomena inipun terjadi di mana-mana entah dalam organiasi sosial kemasyrakatan, kepemudaan, keagamaan dan lain sebagainya.Yang kedua ;  proses belajar merupakan usaha dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dalam proses belajar ada tipe orang yang mampu belajar sendiri (autodidac) dan ada tipe orang yang harus diarahkan terlebih dahulu. Kita coba membahas tipe orang dalam proses belajar yang diarahkan terlebih dahulu. Tipe orang semacam ini butuh figure yang bisa mengarahkan, mendoktrin, mengintergralkan serta mentransformasi hakikat kepemimpinan, gaya kepemimpinan dan segala proses penjenjangan kepemimpinan. Kita mencoba menengok keluar melihat kenyataan yang ada di sekitar kita. Ironisnya figure yang dipercayakan untuk menjalankan proses kaderisasi malah salah kaprah apa ini entah disengajakan atau memang tidak tahu sama sekali. Banyak sekali terjadi penyimpangan, penyalahgunaan proses belajar. Proses doktrinasi yang menciptakan kader fanatic (egoistis) bukan sikap universal, menciptakan kader radikal bukan moderat, menciptakan kader siap tempur seolah-olah kita diperhadapkan dengan situasi perang besar dan konyolnya lagi senjata yang digunakan adalah senjata klasik (otot) ketimbang senjata modern (otak). Mereka lebih mengedepankan sisi kognitifnya yaitu focus terhadap proses belajar tanpa memikirkan hasil yang longitudinal ke depan. Tidak heran outputnya lebih mengarahkan pada hal-hal yang pragamatis saja tanpa memperhatikan idealisme yang sebenarnya harga mati seorang mahsiswa. Di manakah rasional kita? Lagi-lagi fenomena ini terjadi di kampus kita yang kita bangga-banggakan ini.
Marilah kita untuk lebih jeli, lebih dewasa dalam menghadapi segala bentuk dinamika, segala bentuk fenomena yang terjadi di sekitar ataupun kita sendiri yang mengalaminya sehingga bisa membawa kita pada kematangan secara emosional  didukung dengan kematangan secara intelektual dan spiritual yang kemudian menjadikan manusia seutuhnya.Jadilah manusia seutuhnya. Tanamkanlah didalam setiap relung hati yang terdalam bahwa kepemimpinan bukanlah sebuah kekuasaan melainkan sebuah tugas, tanggungjawab dan pengorbanan” Jangan pernah kecewa dengan dunia yang hari ini tidak mengenal anda, tapi kecewalah pada diri anda yang hari ini tidak mengenal dunia”. Menjadi pemimpin bukan dilayani tapi melayani. Teriring salam GIGAT.

MENENGOK AJARAN BUNDA MARIA TENTANG KESEDERHANAAN


“Ketahuilah dengan pasti, engkau yang terkecil dari antara putera-puteraku, bahwa Aku adalah Santa Maria yang sempurna dan Perawan selamanya, Bunda Yesus, Allah yang benar, melalui Siapa segala sesuatu hidup, Tuhan dari segala yang dekat dan yang jauh, Tuhan atas surga dan bumi. Adalah kerinduanku yang sungguh agar sebuah bait didirikan di sini demi menghormatiku. Di sinilah aku akan menunjukkan, aku akan menyatakan, aku akan memberikan segenap cintaku, segenap belas kasihku, pertolonganku dan perlindunganku kepada manusia. Aku adalah Bundamu yang berbelas kasihan, Bunda yang berbelas kasihan dari kalian semua yang tinggal bersatu di negeri ini, dan dari segenap umat manusia, dari segenap mereka yang mengasihiku, dari mereka yang berseru kepadaku, dari mereka yang mencariku, dan dari mereka yang menaruh kepercayaannya kepadaku. Di sinilah aku akan mendengar tangis mereka, keluh-kesah mereka dan akan menolong serta meringankan segala macam penderitaan, kebutuhan dan kemalangan mereka”.  
Demikianlah titah yang disampaikan oleh ibu yang terpuji diantara para ibu kepada seorang petani Indian berusia 57 tahun Pagi hari itu, 9 Desember 1531. Sedang dalam perjalanannya ke Misa; Juan Diego menyusuri jalanan di Bukit Tepeyac, ia mulai mendengar suatu alunan musik nan merdu, dan ia melihat seorang perempuan cantik rupawan, yang memanggil namanya, “Juanito, Juan Dieguito.” Ia datang mendekat, dan perempuan itu mengatakan, Bunda meminta  Juan Diego untuk menyampaikan kepada Uskup Zumarraga perihal keinginannya agar sebuah gereja didirikan di tempat itu. Menurut tradisi, Juan Diego mempertanyakan nama Bunda Maria. Ia menjawab dalam bahasa ibu Juan Diego, bahasa Nahuatl, “Tlecuatlecupe,” yang artinya “ia yang meremukkan kepala ular” (referensi yang jelas menunjuk pada Kitab Kejadian 3:15 dan mungkin pada simbol utama kepercayaan Aztec). “Tlecuatlecupe” apabila diucapkan dengan lafal yang benar, bunyinya mirip dengan “Guadalupe.” Sebab itu, ketika Juan Diego menyampaikan kepada Uskup Zumarraga mengenai nama perempuan itu dalam bahasa ibunya, kemungkinan ia keliru dengan “Guadalupe” nama Spanyol yang familiar, sebuah kota yang terkenal dengan tempat ziarah Bunda Maria. Begitulah sekelumit kisah historis Santa Perawan Maria dari Guadalupe. 
Cuplikan kisah diatas merupakan sebagian kecil pertemuan yang indah nan sederhana dimana seorang Perempuan paling berbahagia di muka bumi dengan segala kemulian-NYA, tanpa malu menunjukkan kesederhanaan untuk mengawali hubungan yang istimewa dengan makhluk yang menyalibkan putra-NYA sendiri.

Bunda Maria Co- Redemptrix
Berbicara tentang iman kristiani, tak dapat kita pisahkan dari peran sentral Bunda Maria. Berawal dari salam perjanjian baru yang diberitakan dengan suka cita oleh Malaikat Gabriel, membuka meja perjamuan kudus Putra-Nya dengan Darah dan Daging sebagai menu utama pembebasan umat keturunan Adam yang penuh bermandi peluh Dosa. 
Menurut arti sederhananya, Co- berarti ‘dengan’. Dalam konsep Mariologi maka akan mengalami dekontekstualisasi makna dimana Co-Redemptrix mengacu kepada; partisipasi Bunda Maria yang tidak langsung namun sangat penting dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Dalam arti inilah Bunda Maria bekerja sama dengan Yesus dalam rencana Keselamatan Allah.
Menyitir tulisan pakar Mariologi, Mark Miravalle, S.T.D, tentang campur tangan Maria dalam misteri Penebusan Anak Manusia, ada dua hal yang menarik yaitu:
1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, yang berupa sebuah ‘undangan’ untuk mengambil bagian dalam karya Keselamatan Allah, dengan menjadi Ibu bagi Yesus Sang Penyelamat. Maria menanggapi undangan ini dengan kesediaannya mengizinkan penjelmaan Yesus menjadi manusia dengan mengambil tempat di dalam rahimNya. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” (Yoh 1:14)
Dengan demikian Maria menjadi Hawa yang baru. Sebab oleh ketidak taatan Hawa yang pertama, umat manusia jatuh ke dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Maria (Hawa yang baru) umat manusia. Iman Maria menandai dimulainya Perjanjian Baru
2. Maria secara unik berpartisipasi dalam kurban salib Yesus demi keselamatan umat manusia. Di kaki salib Kristus, Bunda Maria mempersembahkan kepada Allah hak-hakNya sebagai Ibu, segala belas kasih, dan penderitaanNya yang tak terlukiskan melihat Putera-Nya sendiri disiksa sampai wafat.
Maka, dengan mengatakan Maria sebagai Co-Redemptrix, kita tidak menjadikan Bunda Maria sejajar dengan Yesus dalam karya Keselamatan. Bunda Maria sendiri tetap memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dalam hal ini untuk menjadikannya kudus tanpa noda sejak dalam kandungan, dan karena itu tidak mungkin Bunda Maria memiliki kedudukan yang sama dengan Yesus.

Sebegitu besarnya vitalitas keberadaan Maria dalam skenario penyelamatan umat manusia, namun tak sedikitpun mampu melunturkan keasliaan sosok “Ineffabilis Deus” untuk canggung masuk dan menyapa kehidupan kita anak-anaknya. Dia adalah sosok Ibu yang karismatik sekaligus pengasih yang purna.
Mendapat kedudukan yang layak baik di surga maupun di dunia, namun menyentuh tiap kita tanpa memilahkan asal-muasal, suku, bangsa, jenis kelamin maupun saldo kredit yang kita miliki.  Merupakan bentuk kesederhaan yang patut kita “curi” guna melengkapi identitas kita sebagai umat penerus Jalan Salib Kristus, yang kadang meletakkan sesama kita dalam persperktif  parameter duniawi ketika kita membangun kontak interaksi sosial antar sesama kita.
Tidakah cukup, Bunda Maria “menikmati” tajamnya bilah yang menikam lambung deritanya kala Putra Allah wafat  dipangkuan air mata sang Ibu? Hanya sekadar mengingatkan kita bahwa mengkituti  jejak Kristus berarti rela memberi diri untuk menderita. Pula menandaskan bahwa Kasih identik dengan pengorbanan dan ketulusan dalam meratapi derita?
Namun keadaan ini sangat bertolak belakang dengan yang kita lakoni dalam pentas kehidupan kita. Terutama kita yang menyebut diri sebagai anak-anak Bunda maria, kita bahkan membelakangi tingkah laku yang telah diajarkan-Nya pada kita. Entah dalam keadaan sadar maupun tidak, kita telah melunasi derita Bunda Maria.
Akankah kita masih mampu meneladani kesederhaan yang dicontohkan oleh “Dia yang tak bercela” atau setidaknya mampukah kita mengajak “Mahkota Mawar”  tersenyum kala melihat kasih dan kesederhanaan senantiasa melingkupi kehidupan kita.
Semoga…Amin…

MARIA DAN GELAR – GELARNYA


Bulan Mei dan Oktober senantiasa identik dengan Maria, Bunda Yesus Kristus yang terberkati, dikandung tanpa dosa dan diangkat ke surga dengan raganya yang tetap murni. Penghormatan kepada Bunda Maria pada dasarnya sudah ada sejak zaman Gereja Perdana. Namun, karena suasana penganiayaan dan perlawanan yang kuat terhadap penyebaran agama Kristen pada masa itu tidak memungkinkan umat Gereja Perdana untuk memberikan penghormatan seperti yang kita adakan dewasa ini. Namun, bagaimanapun juga, penghormatan kepada Bunda Maria sudah ada dalam liturgi, bahkan sejak sebelum Konsili Efesus (tahun 421). Karena Bunda Maria sedemikian dihormati oleh Gereja sehingga sangat banyak gelar-gelar dan sebutan-sebutan yang diberikan bagi Bunda Maria untuk menghormati peranannya dalam Gereja sebagai persekutuan umat beriman.  

Kenapa Maria diberikan gelar-gelar tertentu?
            Tentu saja karena peranan Bunda Maria sendiri dalam Gereja. Pertama, Maria dipilih Tuhan secara istimewa untuk menjadi Bunda Tuhan Yesus Kristus juru selamat manusia. Pemilihan yang istimewa ini sangat dirasakan akibatnya yang membahagiakan oleh Gereja sepanjang masa. Kedua, seperti yang dijelaskan oleh Lumen Gentium No.62, keibuan Maria dalam tata rahmat berlangsung terus tanpa putus, mulai dari persetujuan yang diberikannya dengan setia pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan yang dipertahankannya tanpa ragu sampai di kaki salib sampai kepada kesempurnaan abadi semua orang beriman. Karena setelah diangkat ke surga, Maria tidak meninggalkan tugas ini, melainkan melanjutkannya melalui peraantaraan limpah dengan memberikan kita anugerah keselamatan abadi. Hal itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik dari panggung sejarah dunia. Karena itu Maria sungguh melebihi segala makluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan doanya pada Allah.
Kita tentu saja familiar dengan gelar-gelar yang umum, seperti Perawan yang Terberkati dan Bunda Allah, ada berapa banyak sebetulnya gelar-gelar Maria?
Sebuah sumber menyebut ada 117 gelar-gelar Maria, tetapi tentu saja kita tidak dapat membahasnya satu-per-satu pada kesempatan ini. Kita akan mambahas gelar-gelar yang utama, dan bagaimana gelar-gelar Maria dilihat dalam beberapa pengelompokkan.

Bagaimana mengelompokkannya?
Katekismus Gereja Katolik artikel 969 dan Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) mengajarkan ada 4 gelar utama Maria dalam kedudukannya sebagai pengacara (advocata), pembantu (ajutrix), penolong (auxiliatrix), dan perantara (mediatrix) (LG 62). Tapi berdasarkan sifat gelarnya sendiri, gelar Maria dikelompokan menjad 3 yaitu :

Gelar-gelar Maria karena dogma Gereja
Gelar Maria yang bersifat doktrinal adalah gelar-gelar Maria yang secara dogmatis penting bagi Gereja. Gelar-gelar Maria yang bersifat doktrinal ini misalnya Maria Bunda Allah, Maria Perawan Yang Terberkati, Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa atau Bunda Gereja adalah contohnya.
Maria Bunda Allah dalam bahasa Yunani disebut Theotokos adalah gelar Maria yang sangat penting bagi Gereja. Gelar ini didasarkan pada panggilan Elizabeth kepada Maria dalam Injil Lukas 1:43. Gelar ini resmi disandangkan pada tahun pada Konsili Efesus tahun 431. Pada tahun-tahun tersebut berkembang ajaran oleh Nestorius dari Konstantinopel yang memandang bahwa Maria hanya membawa tubuh Yesus sebagai manusia, dan bukan sekaligus keilahianNya. Gelar Maria Bunda Allah membawa implikasi teologis bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah sejak pertama Ia dikandung oleh Maria dan dengan demikian gelar itu sekaligus mematahkan ajaran Nestorius dan menyatakan bahwa Nestorianisme adalah sesat. Maria Bunda Allah dirayakan Gereja Katolik dalam pesta setiap setiap tanggal 1 Januari.
Selanjutnya kita juga terbiasa dengan sebutan ”Perawan Maria”. Walaupun sangat biasa kita dengar, gelar ini juga memiliki dasar dogmatis yang berasal dari Gereja awal, bahwa Maria tetap perawan sebelum, saat dan sesudah melahirkan Yesus. Hal ini juga berasal dari kutipan ucapan Maria seperti tercatat dalam Injil Lukas 1:34. Ajaran ini berasal dari ajaran Ignatius dari Antiokia, Ambrosius dari Milan dan Agustinus dari Hippo dan akhirnya menjadi ajaran resmi Gereja sejak Sinode Lateran tahun 649.
Selain itu ada sebuah gelar Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa atau Immaculata. Gelar ini diberikan bahwa karena kesuciannya untuk mengandung Tuhan, Maria dikecualikan dari dosa asal sejak Maria berada dalam kandungan ibunya.
Akhirnya, sebuah gelar dogmatis terpenting adalah Yang Diangkat Ke Surga atau Maria Assumpta. Gelar ini mengikuti gelar Yang Dikandung Tanpa Dosa dan kepercayaan turun temurun bahwa Maria sungguh-sungguh dikecualikan dari manusia biasa oleh Allah. Kepadanya telah diberikan kepenuhan rahmat hidup tanpa dosa dan pada akhirnya saat paripurna hidupnya ia diberi rahmat terakhir yaitu jiwa dan raganya diangkat ke surga.

Gelar-gelar Maria yang bersifat devosi?
Gelar Maria yang bersifat devosi adalah gelar-gelar yang bersifat puitis atau alegori. Banyak dari gelar-gelar ini yang berasal dari Kitab Suci, seperti Tabut Perjanjian, Menara Gading, Benteng Daud, Bintang Timur, Bintang Samudera. 
“Benteng Daud” adalah benteng yang berdiri menyolok dan kokoh di puncak tertinggi pegunungan yang mengelilingi Yerusalem. Benteng yang demikian merupakan sarana pertahanan kota. Dengan benteng itu, peringatan akan dapat segera disampaikan apabila musuh datang menyerang. Maria diperbandingkan dengan Benteng Daud karena kesuciannya, karena ia dikenal sebagai yang penuh rahmat dan karena ia dikandung tanpa dosa. Dengan doa-doa dan teladannya, Maria merupakan bagian dari “sarana pertahanan” Tuhan dengan mana Kerajaan Allah akan berdiri tegak tak terkalahkan dan dosa akan senantiasa dikalahkan (bdk Kid 4:4).
Maria disebut “Benteng Gading”. Gelar ini juga digunakan dalam Kidung Agung (Kid 7:4) yang menggambarkan pengantin terkasih. (Ungkapan serupa, “Istana Gading” digunakan dalam Mazmur 45:9, untuk alasan yang sama). Kedua ilustrasi tersebut menubuatkan hubungan perkawinan antara Kristus dan pengantin-Nya, Gereja, seperti disampaikan dalan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus. 
Gelar “Tabut Perjanjian” mengangkat peran keibuan Maria. Perlu diingat bahwa dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian adalah rumah bagi Sepuluh Perintah Allah, Hukum Tuhan. Sementara bangsa Israel dalam pengembaraan menuju tanah terjanji, suatu tiang awan, yang melambangkan kehadiran Allah, akan turun atas atau “menaungi” kemah di mana Tabut disimpan. Yesus datang untuk menggenapi perjanjian dan hukum. Dalam kisah Kabar Sukacita, perkataan Malaikat Agung Gabriel kepada Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau,” (Luk 1:35) menyatakan gagasan yang sama. Karena itu, Maria yang memberi “rumah” Yesus dalam rahimnya; adalah “Tabut” baru, dan bunda dari pelaksana perjanjian yang sempurna dan kekal.  
Bagi kita, Bunda Maria juga melambangkan pengharapan yang besar. Vatikan II menyatakan, “Sementara itu Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan.” (Lumen Gentium no. 68). Karena alasan ini Bunda Maria digelari “Bintang Timur”, karena ia melambangkan orang-orang Kristen yang menang, yaitu mereka yang bertekun dalam iman dan beroleh bagian dalam kuasa Mesianis Kristus dan menang atas kuasa kegelapan yaitu dosa dan maut. 

Gelar – gelar Maria Karena Penampakan atau Pengaruh Geografis 
Sementara gelar karena penampakan atau geografis adalah gelar yang diberikan kepada Maria karena kehadirannya di tempat-tempat tertentu, dan juga penghormatan daerah tertentu kepada Maria yang khusus daerah tersebut, bukan Gereja Katolik seluruhnya, misalnya Bunda Lourdes, Bunda Karmel, Bunda La Salette. Di sebuah paroki di Pakem, Yogyakarta ada gelar ’Kitiran Kencana’ bagi Bunda Maria.>>>

APAKAH TUHANKU MELARANGKU MENJADI PELAYAN DI HATIMU

(sebuah kisah cinta beda prinsip)

Aku hanya seorang pemuda yang kebetulan berada di sebuah fakultas favorit di salah satu universitas terbaik di kota tempat tinggalku. Semuanya berjalan dengan apa adanya sampai seorang gadis bernama Uki datang ke dalam kehidupanku pada tahun kedua aku berada di kampus.
Sebenarnya dia hanya sosok wanita biasa bagi kebanyakan orang, namun itulah kekuatan cinta pada pandangan pertama, bagiku dia seperti dewi malamku dan ratu di siang hariku, melihatnya tersenyum membuatku dapat tersenyum tanpa ada alasan untuk menyimpulkan kedua bibirku dan bagiku menatap matanya bagaikan melihat jauh ke masa depan yang penuh dengan cinta dan kasih yang tak terbatas.
Pikirku butuh banyak keberanian tentunya untuk hanya sekedar menyapa dan mendengar lembut suaranya.
Cukup lama aku berdiri menatap wajahnya siang hari itu, dan entah dari mana datangnya keberanian itu, tapi aku tak perduli, yang aku tahu adalah aku telah menjadi seorang pejuang cinta sejati saat aku mengungkapkan isi hatiku padanya dan dibalasnya dengan  senyuman manis sambil berbisik pelan, “biarlah kamu yang menjadi penjaga di hatiku”, akupun menjawab “aku bukan hanya akan menjaga hatimu, aku juga akan menjadi pelayan di hatimu yang akan selalu membersihkan setiap debu sakit hati dan bercak kekecewaan yang melekat di dinding hatimu”.
Kisah cinta yang kujalani bersamanya merupakan kisah paling indah yang menghiasi tiap relung hatiku, sehingga rasa penat pun tak sanggup merembes masuk melewati celah hatiku yang dipenuhi cinta akan Neta sang dewi malamku. Tak ada waktu yang kulewatkan tanpa dirinya, tak ada kata yang keluar dari mulutku tanpa memuji indah hadirnya, semua yang kujalani terasa indah saat bersama dengannya.  
Bulan demi bulan berlalu, kehadiranku tanpa dirinya di sisiku adalah sebuah kemustahilan, dimana ada aku di situ pula dia hadir sebagai pelengkap tiap langkahku. Sampai pada suatu hari dia memberanikan diri untuk bertanya padaku “ehm…Enda, kamu mau kan kalo kuajak bertemu dengan kedua orang tuaku, soalnya ada yang mau mereka bicarakan denganmu”, awalnya aku sempat kaget dan gugup, tapi aku lalu berpikir, mungkin ini baik juga demi kelangsungan hubungan kami, jadi aku dengan mantap mengiyakan keinginannya untuk bertemu orang tuanya.
Malam itu, setelah berulang kali berdiri di depan cermin tua peninggalan kakekku, aku berangkat ke rumah orang tuanya.
Sesampainya aku di depan rumahnya, rasa gugup dan resah bercampur menjadi satu, seakan mengoyak isi perutku sehingga ingin rasanya aku kembali pulang saja, apalagi kedua kakiku ikut-ikutan tak mau menuruti perintah otakku yang sedang memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi. Tapi demi cintaku yang tulus padanya, pagar berduri pun akan kulewati.
Walaupun begitu berat terasa langkah ini aku terus maju menyusuri halaman rumahnya yang dipenuhi tanaman hias, kuketuk daun pintu rumahnya, sambil berharap bukan salah satu dari orang tuanya yang menyambutku, karena tampangku sedang kacau akibat perut dan dadaku yang rasanya sudah menyatu saking gugupnya.
Sekali lagi kuketuk pintu dan berharap ada sahutan dari suara yang kukenal baik datang dari balik pintu ini, mungkin karena perasaan cinta yang begitu dalam terpatri dalam hingga bunyi langkah kakinya pun sangat kukenal dengan baik.
“ayo masuk, papa dan mama sudah menunggu di meja makan”, katanya dari balik daun pintu, rasa sesak itu semakin mendesak keluar dan membuatku tak bicara bahkan membalas sapaan orang tuanya saat aku menuju meja makan yang telah dipenuhi menu makanan yang ternyata disiapkan khusus untuk menyambut kedatanganku. Perkenalan malam itu berlangsung biasa saja, karena ayahnya sibuk dengan hidangan yang tersedia di depannya. Setelah kami menyelesaikan makanan penutup, kami menuju ruang keluarga, untuk memulai perbincangan, sementara dia dan ibunya sibuk membereskan perlengkapan makan, aku dan ayahnya duduk terdiam di ruang keluarga, entah kenapa aku seperti sedang berdiri di depan sebuah papan yang bertuliskan “DILARANG BERBICARA”, karena seakan aku tak mampu menembus tembok pemisah antara aku dan ayahnya, dengan sedikit kenekatan aku pun mulai mencoba membuka tabir pemisah dengan pertanyaan yang akhirnya kusadari sebagai pertanyaan yang paling bodoh yang penah kukatakan, “ehm…om dan tante dulu bertemunya dimana?”. Dengan mata tertuju tajam padaku, ayahnya tersenyum padaku, entah cuma perasanku saja atau memang begitu adanya, senyum itu begitu dingin dan penuh kesinisan, lalu terdengar suara yang penuh wibawa keluar dari mulut lawan bicaraku yang begitu penuh dengan hawa menakutkan bagiku “kami berdua sudah dijodohkan dari kecil, jadi memang sudah sangat mengenal satu sama lain, jadi om pun berharap anak om akan menikah dengan cara dijodohkan, tentunya dengan yang sealiranlah”.
Dadaku yang rasanya sesak seakan meledak, entah karena akhirnya kami berdua sudah mulai berkomunikasi, atau mungkin karena kalimat terakhir tentang perjodohan yang begitu menusuk bagai sebuah belati yang lansung mengenai dinding jantungku kemudian ditarik kembali sebelum sempat mengoyak hancur jantungku, tapi itu sudah cukup untuk melukai hati dan jantungku.
Saat itu rasanya aku baru terbangun dari semua hayalanku, aku baru tersadar bahwa aku dan dia memang berbeda dalam keyakinan, Kepalaku seakan begitu ringan, tak ada lagi tempat di kepalaku yang bisa kugunakan untuk berpikir lebih jernih, semua pikiranku seakan terangkat habis bersama semua hayalan dan harapanku akan sebuah kehidupan percintaan yang akan kujelang, pelaminan yang kuimpikan berganti jadi sebuah kamar sempit yang mengurung semua impianku, kamar gelap yang penuh dengan lumut kekecewaan yang melekat kuat dalam tembok perasaanku yang mulai merapuh.
Perkataan ayah Neta malah berlanjut dengan permintaan ibunya untuk tidak menemui Neta lagi karena perbedaan prinsip antara kami berdua. Malam itu, Neta hanya dapat terdiam dan menahan kesedihan di hatinya, aku hanya dapat melihat matanya yang penuh dengan keterkejutan. Setelah malam itu, aku tak pernah lagi bersama-sama dengan Neta.
Lebih banyak kesendirian lagi yang kujalani tanpa dirinya di sisiku, anehnya aku tak bisa membuka hatiku untuk perempuan lain. Sepertinya hatiku tidak mengikuti kemauanku, hatiku masih menginginkan dia namun rasa takut akan perbedaan itu lebih besar menahan asaku untuk kembali bersama dengan dirinya.
Akhirnya rasa takut akan perbedaan itu menguasai hatiku dan menahan asaku untuk bersama dengannya. Dan kemudian aku membuat keputusan untuk melupakan dirinya, meninggalkan kenangan indah bersamanya dalam ruang hampa pikiranku, sehingga tak akan sempat aku untuk kembali mengingatnya, sebab kembali pada kenangan akan dirinya semakin mengoyak hatiku.
Namun aku percaya, walaupun hatiku telah hancur berkeping-keping, aku akan tetap mencintainya dengan setiap kepingan hatiku yang telah hancur itu.
Sebab aku percaya Tuhanku tak pernah melarangku untuk menjadi pelayan di hatimu.

Maria Sumber Kepemimpinan Partisipatif

“ Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu,.” (Lukas 1 : 38 )

Ada sepenggal ungkapan klasik berbunyi “ tidak penting untuk menjadi apa yang penting dapat beruat amal bagi sesama “. Bidikan ungkapan ini menyingkapkan kebenaran dan kemuliaan arti sebuah pelayanan serentak memperlihatkan wajah gelap dari sebuah nama besar. Pelayanan dan nama besar memeang dekat dengan kiprah kinerja seorang pemimpin. Namun, persoalan kita sekarang adalah antara hal pelayanan dan nama besar, manakah yang mendapat prioritas bagi seorang pemimpin? Dalam arti tertentu kita semua adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Sebagai pemimpin, kita terlibat dalam berbagai kegiatan, baik dalam sekala besar maupun keci. Dalam skala kecil kita menjadi pemimpin – pemimpin yang selalu aktiv dalam berbagai kegiatan/aktivitas individual, sedangkan dalam sekala besar kita tengah menjadi pemimpin minimal telah mau untuk memobilisasi dalam bersosialisasi dengan sesam pada suatu kegiatan institusi / organisasi tertentu. Oleh karena di dalam kegiatan seperti itulah motivasi kita sebenarnya teruji. Ledership is action not posision, ungkapan ini pula  yang dikatakan oleh Donald H. Ganon sebenarnya menjadi dasar bagi berbagai pemimpin di muka bumi ini dalam mengemban tugas suci yang tengah diamanatkan kepadanya. Menjadi pemimpin bukanlah karunia yang diperoleh dengan tiba-tiba, ataupun karena kemampuan pribadi, tetapi lebih dari itu adala wujud dari puncak kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan oleh orang – orang di sekitarnya. Kepemimpinan adalah aksi bukan posisi.

Kepemimpinan
Menjadi pemimpin bukan kepala. Seorang pemimpin boleh menjadi kepala tetapi seorang kepala belumlah menyiratkan  garansi sebagai seorang pemimpin.
Pengertian kepemimpinan banyak sekali ahli yang tengah memberikaan telaan teoritisnya. Gibson dkk mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaaan untuk memotivasi orang – orang untuk mencapai tujuan teretentu (mengutamakan pengaruh dan komunikasi). Sedangkan James J. Cribin mengartikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk memperoleh consensus dan keikatan sasaranbersama yang ingin dicapai. Dengan demikian kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang agar bekerjasama  menuju kepada suatu tujuan tertentu yang diinginkan bersama. “Adanya orang yang memengaruhi, dan orang yang dipengaruhi, adanya komunikasi, adanya tujuan bersama”
Relitanya dewasa ini, dalam suatu organisasi baik apapun itu profit dan nonprofit, kepemimpinan menjadi kunci sukses dalam mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan adalah semangat sebagai katalisator yang mampu meningkatkan lajunya organisasi, semangat sebagai integrator yang menyatukan berbagai komponen dalam organisasi, semangat sebagai pendidik di mana saja berada, dan semangat sebagai bagai bapak yang tidak semata – mata menjadi atasan tetapi menjadi pengayom dan pelindung yang menyejukan.

Kepemimpinan Partisipatif
Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah bak membalikan telapak tangan, tetapi butuh banyak pengorbanan dan perjuangan. Sejauh ini telah banyak bukti nyata adanya kehadiran sosok pemimpin yang tidak mampu untuk memberi pelayanan yang baik bagi anggotanya. Dengan mengangkat organisasi pemerintahan, swasta, masyarakat, maupun organisasi kemahasiswaan (ORMAWA) sebagai objek kajian makin terasa adanya peningkatan keluhan yang diberikan oleh anggotanya dari hari ke hari. Banyak sudah organisasi yang hancur dan menjadi tercerai berai karena pemimpin yang semau gue dan tidak memiliki komitmen (pendirian, tindakan, yang dipakai sebagai panutan yang utama/prinsip) sebagai pelayan dan bertanggung jawab dalam setiap kiprah kepemimpinannya. Yang menjadi persoalannya juga adalah, di satu sisi kita sangat mendambakan sosok pemimpin yang melayani karena kebutuhan anggotanya, namun di sisi lain dijumpai pula adanya proses rekruitmen yang melahirkan pemimpin-pemimpin premature hasil ejakulasi dini gagal prosedur. Oleh karena itu, masalah dan kericuhan sebenarnya adalah timbul karena kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kesenjangan antara hasrat masyarakat / anggota dalam suatu organisasi untuk memperoleh pemimpin yang baik dan ketiadaan mekanisme pemilihan yang layak, sehat, dan baku diterima oleh semua pihak. Alhasil, muncul pula berbagai aksi untuk menggagalkan segala kebijakan pemimpin baik intern maupun ekstern karena tidak menahkodai kepentingan bersama. Oleh karenanya, kepemimpinan partisipatif sangat diperlukan untuk menjawabi fenomena ini. Dibutuhkan pemimpin pemimpin yang mau menjadi pelayan, mau melibatkan partisipasi aktif anggota dalam setiap kebijakannya, mau dan peka pada setiap keinginan anggotanya.

Maria Teladan Kepemimpinan Partisipatif
Tentang pemimpin, baiklah kita merenungi kisah penginjil markus berikut ini. Konon dikisahkan bahwa murid – murid Yesus pernah bertengkar , mempersoalkan siapa yang terbesar dan terkemuka di antara mereka. Pertengkaran ini,tidak membuahkan hasil dan akhirnya Yesus memprihatinkan keributan mereka dengan sepenggal kata – kata bijak : ‘ siapa yang hendak menjadi terbesar – terkemuka, harus menjadi pelayan’. Di sini Yesus mengaskan bahwa setiap anak manusia dengan sendirinya akan terkemuka menjadi seorang pemimpin, karena pelayanan tanpa pamrih yang diberikan kepada sesama .
Dari kisah tersebut di atas, merupakan cirri utama kepemimpinan partisipatif. Memimpin untuk melayani. Jiwa kepemimpinan seperti ini, juga tengah diteladankan oleh Maria Bunda Kita dalam setiap kehidupannya saat mengemban tugas suci sebagai bunda Yesus, Bunda segala Bangsa.

“ Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu,.” (Lukas 1 : 38 )
Sepenggal kutipan kalimat di atas adalah bentuk penyerahan total Bunda Maria untuk menjadi pelayan sejati, pelayan bagi dunia lewat Yesus yang akan dikandungnya. Bunda Maria tengah merelakan dirinya menjadi pelayan bagi Allah untuk turut mengambil bagian dalam tugas perutusanNya. Selanjutnya dalm perjalananNya, Bunda Maria senantiasa dengan setia menenmani dan mengikuti Yesus Kristus puteraNya hinga pada akhir pengorbananNya di kayu salib, Maria pun deengan penuh kesetiaan menantiNya di bawah kayu Salib. Oleh karena itu, Bunda Maria adalah sosok yang memberikan teledan bagi kepemimpinan partisipatif, karena Bunda Maria Maria sederhana, Bunda Maria setia, Bunda Maria mau mendengar, Bunda Maria penyabar, Bunda Maria tulus hati, Bunda Maria penuh sukacita, Bunda Maria pedamping dalam cobaan, Bunda Maria Ibu Tuhan, Bunda Maria pendoa, Bunda Maria penuh teladan, Bunda Maria murah hati, dan Bunda Maria pendidik utama.
Menjadi pemimpin haruslah berjiwa sederhana bukan malah berjuang untuk luput dari kesederhanaan. Menjadi pemimpin harus seti pada janji dan sumpah untuk melaksanakan setiap tugas dan tanggung jawab yang diemban. Menjadi pemimpin harus mau mendengarkan kebutuhan/suara anggotanya. Menjadi pemimpin juga harus sabar menghadapi segala dinamika yang terjadi pada organisasi. Menjadi pemimpin harus tulus hati melayani. Menjadi pemimpin harus penuh sukacita pelayanan. Menjadi pemimpin harus selalu mendampingi anggota dalam suka dan duka. Menjadi pemimpin menampilkan sosok bapak yang mengayomi bagi anggotanya. Menjadi pemimpin harus selalu sejalan antara berdoa dan bekerja. Menjadi pemimpin harus memberikan teladan dalam setiap aktivitasnya. Menjadi pemimpin juga harus murah hati dan menjadi pendidik bagi anggotanya.
Menjadi pemimpin dewasa ini, sejatinya adalah menjadi pemimpin partisipatif yang sejatinya pula meneladani sosok kehidupan Bunda Maria. Saya, kamu, kita, dan kalian, adalah sosok pemimpin-pemimpin sebagaimana yang telah dipersiapkan olehNya dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, jadilah pemimpin yang partisipatif bagi dirimu dan dalam setiap tugas dan tanggung jawab yang diemban… GIGATT…!!!!!!

 Maria Protegente