Penasihat manajemen Dale Carnegie dalam
bukunya yang berjudul The Leader in You menuliskan bahwa “Ada kepemimpinan di
dalam setiap diri Anda” . Mengingatkan kita bahwa dalam Alkitabpun ditulis
manusia diciptakan untuk memimpin alam semesta. Jadi sebenarnya kepemimpinan
itu melekat dalam jiwa secara lahiriah.
§ Perspektif kepemimpinan mahasiswa secara
personal dan kolektif.
Kepemimpinan seringkali
didefenisikan sebagai bagian dari seni (art)
untuk mempengaruhi, mengatur seluruh anggota suatu organisasi dalam
pencapaian suatu tujuan. Kepemimpinan
secara personal di sini diartikan sebagai suatu seni untuk mengatur kepribadian
secara perorang (kompetensi dan
intergritas) dalam usaha mencapai kesuksesan dan keberhasilan hidup semata.
Secara kolektif kepemimpinan dimaknai sebagai suatu seni untuk memimpin,menjadi
katalisator serta menjadi penggerak dinamika orang banyak entah dalam ruang
lingkup suatu organisasi ataupun dalam lingkup lingkungan yang bebas tanpa
kerterikatan apapun dan tujuan yang dicapai adalah bagaimana mengakomodir
kepentingan umum (commune bonum). Dalam
konteks kepemimpinan mahasiswa secara personal sebenarnya bukan seni tatapi
lebih pada leadership wisdom (di mana dalam pencapaiannya dengan pembelajaran
yang melintasi waktu dan dilaksanakan secara disiplin) dalam membentuk
kemampuan baik secara akademis maupun nonakademis serta proses penemuan jati
diri (integritas diri) dalam cakupan tujuan secara perorang. Demikian pula
dengan kepemimpinan mahasiswa secara kolektif namun kepemimpinan mahasiswa
secara kolektif ruang lingkupnya secara public entah dalam tataran intrakampus
maupun ekstra kampus dan sebenarnya bertujuan untuk mengaktualisasikan diri
serta mendapatkan pengakuan dari banyak orang mengenai eksistensinya.
§ Kepemimpinan mahasiswa dalam kaitan
dengan konstelasi eksistensi mahasiswa pada masa kini.
Kita coba melihat kembali hakikat
kepemimpinan mahasiswa sebagai leader wisdom yang di mana dalam pencapainnya
butuh waktu, butuh proses penjenjangan, butuh konsistensi, kedisplinan serta
kerja keras secara intensif guna menjadi manusia seutuhnya. Dalam
menginterpretasikan serta aplikasinya (action) dalam keseharian perlu adanya SIKAP CERDAS DALAM MEMILAH serta CERDIK
DALAM MEMILIH. Hal apa yang mendasari penulis lebih memberi aksentuasi pada
sikap cerdas dan cerdik. Yang pertama ;berhubungan dengan
persepsi. Pemahaman dan pandangan masing-masing pribadi tentu berbeda-beda.
Perbedaan ini akan berdampak pada sikap serta perilaku secara nyata ditampilkan dan menjadi
salah satu indicator yang bisa diukur. Sederhananya
bila dipahami sebagai hal yang positif tentu aksinyapun menggambarkan
pemahamannya sebaliknya bila dipahami sebagai wahana untuk hal-hal negative
tentunya punya misi-misi tertentu yang bisa merongrong dan mendegradasi
nilai-nilai normative yang ada. Saya kira pemikiran secara positif jarang
sekali ditemukan dalam kehidupan kita malah yang mendominasi adalah pemahaman
negative.Ini suatu kenyataan entah kita sadari
atau tidak di FKM tercintapun banyak sekali misi-misi khusus semacam
jihad yang secara gerlya dijalankan padahal jelas-jelas menyimpang tetapi
dibenarkan secara parsial dan herannya dipaksakan untuk mengamininya secara
komunal.Hal ini membuktikan dangkalnya pemahaman serta sikap serakah akan
kekuasaan dan jabatan. Ironisnya, ketika kita telusuri lebih jauh ke dalam,
yang didapatkan adalah perbandingan kuantitasnya lebih memadai ketimbang
kualitas. Sungguh menjadi pukulan berat bagi kita yang menamakan diri sebagai
mahasiswa FKM. Tak dapat dipungkiri bahwa fenomena inipun terjadi di mana-mana
entah dalam organiasi sosial kemasyrakatan, kepemudaan, keagamaan dan lain
sebagainya.Yang kedua ; proses
belajar merupakan usaha dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dalam proses belajar
ada tipe orang yang mampu belajar sendiri (autodidac) dan ada tipe orang yang
harus diarahkan terlebih dahulu. Kita coba membahas tipe orang dalam proses
belajar yang diarahkan terlebih dahulu. Tipe orang semacam ini butuh figure
yang bisa mengarahkan, mendoktrin, mengintergralkan serta mentransformasi
hakikat kepemimpinan, gaya kepemimpinan dan segala proses penjenjangan
kepemimpinan. Kita mencoba menengok keluar melihat kenyataan yang ada di
sekitar kita. Ironisnya figure yang dipercayakan untuk menjalankan proses
kaderisasi malah salah kaprah apa ini entah disengajakan atau memang tidak tahu
sama sekali. Banyak sekali terjadi penyimpangan, penyalahgunaan proses belajar.
Proses doktrinasi yang menciptakan kader fanatic (egoistis) bukan sikap
universal, menciptakan kader radikal bukan moderat, menciptakan kader siap
tempur seolah-olah kita diperhadapkan dengan situasi perang besar dan konyolnya
lagi senjata yang digunakan adalah senjata klasik (otot) ketimbang senjata
modern (otak). Mereka lebih mengedepankan sisi kognitifnya yaitu focus terhadap
proses belajar tanpa memikirkan hasil yang longitudinal ke depan. Tidak heran
outputnya lebih mengarahkan pada hal-hal yang pragamatis saja tanpa
memperhatikan idealisme yang sebenarnya harga mati seorang mahsiswa. Di manakah
rasional kita? Lagi-lagi fenomena ini terjadi di kampus kita yang kita
bangga-banggakan ini.
Marilah kita untuk lebih jeli,
lebih dewasa dalam menghadapi segala bentuk dinamika, segala bentuk fenomena
yang terjadi di sekitar ataupun kita sendiri yang mengalaminya sehingga bisa
membawa kita pada kematangan secara emosional
didukung dengan kematangan secara intelektual dan spiritual yang
kemudian menjadikan manusia seutuhnya.Jadilah manusia seutuhnya. Tanamkanlah
didalam setiap relung hati yang terdalam bahwa kepemimpinan bukanlah sebuah
kekuasaan melainkan sebuah tugas, tanggungjawab dan pengorbanan” Jangan pernah kecewa dengan dunia yang
hari ini tidak mengenal anda, tapi kecewalah pada diri anda yang hari ini tidak
mengenal dunia”. Menjadi pemimpin bukan dilayani tapi melayani. Teriring
salam GIGAT.